Study Daerah Penangkapan Ikan tuna SBT Indonesia di Perairan Samudera Hindia

Study Daerah Penangkapan Ikan tuna SBT Indonesia di Perairan Samudera Hindia

Penangkapan ikan tuna, – Ikan tuna SBT yang ditangkap oleh para nelayan kapal longline Indonesia di Samudera Hindia ternyata memiliki latar belakang kondisi lingkungan perairan yang saling mempengaruhi. SBT hanya hidup di Samudera Hindia dan para peneliti dunia menduga spawning ground berada di wilayah NKRI di selatan Jawa dan Bali. Bagaimana karakteristik kondisi perairan di selatan Jawa dan Bali? berikut study yang saya buat semoga bermanfaat.

Penangkapan Ikan tuna – Musim, Suhu dan Salinitas Perairan Samudera Hindia

Martono (2008) mengemukakan bahwa perairan Samudera Hindia mempunyai sifat yang unik dan kompleks. Bersifat unik dan kompleks karena dinamika perairan ini sangat dipengaruhi oleh sistem angin musim (monsoon) dan sistem angin pasat yang bergerak di atasnya tidak seperti perairan Samudera Pasifik dan Atlantik yang hanya dipengaruhi oleh sistem angin pasat saja. Di perairan ini terdapat beberapa fenomena oseanografi yang yang mempunyai pengaruh penting tidak hanya dalam masalah oseanografi tetapi juga dalam masalah atmosfer. Fenomena ini antara lain Indian Ocean Dipole (Saji et al., 1999), upwelling (Wrytki, 1961) dan eddies (Robinson, 1983).

Pada umumnya perairan Samudera Hindia selatan Jawa dan Bali sangat dipengaruhi oleh angin musim (monsoon). Pada Musim Barat yang bertepatan dengan musim hujan, berlangsung antara Desember Februari. Sedangkan Musim Timur yang bertepatan dengan musim kemarau, berlangsung antara Juni Agustus. Sedangkan di antara kedua musim tersebut terdapat Musim Peralihan, masing-masing Musim Peralihan Pertama dari musim barat ke musim timur yang berlangsung pada bulan Maret Mei, Musim Peralihan Kedua dari musim timur ke musim barat yang berlangsung pada bulan September November (Wyrtki, 1961 dan Nontji, 2008).

Pada saat musim barat, sebaran suhu permukaan di Samudera Hindia tropis antara 100 LU 100 LS dan 400BT 1400 BT relatif hangat dengan kisaran nilai rata-rata sekitar 28,620 C dan di bagian selatan sebaran suhu permukaan laut lebih dingin. Pada saat musim peralihan pertama, sebaran suhu permukaan laut makin hangat dengan kisaran nilai rata-rata sekitar 29,63OC dan di bagian selatan sebaran suhu permukaan laut lebih dingin makin melebar ke utara. Sedangkan pada musim timur, suhu permukaan laut mengalami perubahan di mana secara umum lebih dingin daripada musim barat dan musim peralihan pertama. Dan pada musim peralihan kedua, sebaran suhu permukaan laut relatif hangat. Di bagian timur Samudera Hindia tropis relatif lebih hangat daripada bagian barat. Sementara itu, di bagian selatan sebaran suhu permukaan laut lebih dingin (Martono et al. 2008).

Perubahan Suhu Permukaan Air Laut pada setiap musim di Perairan Samudera Hindia (Martono et al., 2008) Di perairan selatan Jawa kedalaman lapisan tercampur berkisar antara 40-75 meter, dan suhu permukaan laut umumnya lebih dari 27C (Purba, 1995 dalam Farita, 2006). Secara umum letak lapisan termoklin di perairan Indonesia berada pada kedalaman 100-300 meter, dengan kisaran suhu antara 9C 26C. Khususnya di perairan selatan Jawa, batas atas lapisan termoklin terletak pada kedalaman 45-75 meter dan batas bawah terletak pada kedalaman 150-200 meter (Purba 1995, dalam Farita 2006). Kisaran suhu pada lapisan dalam di perairan Indonesia adalah 2C 4C (Soegiarto & Birowo, 1975). Terkait dengan salinitas, menurut Pariwono et al. (1998), salinitas perairan Teluk Palabuhanratu (bagian selatan Jawa) berkisar 33,0 35,0 . Keadaan kisaran perubahan salinitas tersebut relatif normal karena sejumlah besar organisme yang hidup di laut dapat bertahan pada batas toleransi kisaran salinitas berkisar antara 30 40 (Odum, 1971).

Teluk Palabuhanratu umumnya memiliki kandungan salinitas yang tinggi, hal ini disebabkan oleh pengaruh Samudra Hindia yang begitu besar ditambah lagi Teluk Palabuhanratu bersifat terbuka. Sehingga perairannya memiliki kandungan salinitas yang sama dengan laut terbuka. Pada musim barat di mana terjadi musim hujan terjadi penurunan salinitas secara vertikal mempunyai rentang sebesar 31-33 , sedangkan secara horisontal rentang salinitas 30-32 . Keadaan salinitas yang rendah pada daerah sekitar ekuator disebabkan oleh tingginya curah hujan. Khususnya di perairan kepulauan, salinitas ini diperendah lagi oleh air sungai yang mengalir ke laut.

Penangkapan Ikan tuna – Upwelling

Perairan selatan Jawa-Bali Samudera Hindia mengalami keadaan upwelling yang bersifat musiman (Surinati, 2009). Studi yang dilakukan oleh Hendiarti, et al. (2003) memberikan petunjuk bahwa ketika terjadi El Nino tahun 2007, Arlindo (arus lintas Indonesia) yang merupakan transport utama air dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia lewat selat-selat di Indonesia, melemah. Melemahnya arlindo ini berari aliran air yang masuk ke Samudera Hindia pun mengendur hingga upwelling terjadi di Samudera Hindia (di selatan Jawa-Nusa Tenggara Barat) meningkat. Ini terlihat dari suhu yang rendah dan kandungan klorofil fitoplankton yang tinggi di perairan selatan Jawa-NTB pada saat terjadi El Nino.

Sementara itu, Pariwono et al. (1988) mengemukakan bahwa pada bulan September dan Oktober suhu permukaan laut selatan Jawa relatif rendah, yaitu rata-rata 26,57C, sedangkan pada musim hujan suhu permukaan laut rata-rata naik menjadi 27,78C padahal disaat itu laut kurang menerima pemanasan dari matahari, karena tertutup awan. Hal ini diduga sebagai pertanda bahwa proses upwelling terjadi pada bulan Agustus, September, dan Oktober. Sedangkan menurut Susanto, et al. (2001) terjadinya upwelling di selatan Sumatera-Jawa terjadi pada bulan Juni sampai pertengahan Oktober di musim timur. Kejadian upwelling ini ditandai menurunnya suhu sampai 26,0 C sehingga lapisan termoklin menjadi lebih dangkal pada kedalaman 20 60 m dan salinitas menjadi lebih tinggi sekitar 34,5 . Proses upwelling ini berlanjut dengan keadaan perairan yang kaya akan melimpahnya zat hara, melimpahnya fitoplankton, disusul dengan melimpahnya zooplankton, kemudian melimpahnya ikan-ikan kecil pelagis, cumi, udang yang merupakan makanan kesukaan ikan tuna.

Penangkapan Ikan tuna – Spawning Ground dan Fishing Ground Ikan SBT

Seperti diketahui bahwa daerah pemijahan (spawning ground) SBT diketahui hanya berada di selatan Jawa, Indonesia Samudera Hindia (Jenkins & Davis 1990, Caton 1991). Periode waktu pemijahan SBT berlangsung dari bulan September sampai April pada perairan hangat selatan Jawa sepanjang tahun (CCSBT, 2011). Dampak kondisi perairan yang mengalami upwelling, yang ditandai dengan melimpahnya sumber makanan, temperatur yang cukup dan salintas yang tinggi, kondisi ini merangsang ikan tuna untuk melakukan pemijahan.

Larva tuna hanya terdapat pada lapisan termoklin yang dingin, walaupun pernah diketemukan pula dilapisan yang lebih dingin di bawah termoklin (Matsutomo, 1959, dalam Sumadhiharga, 2009). Sehingga dapat diduga bahwa puncak pemijahan ikan SBT di perairan selatan Jawa pada pertengahan musim timur. Sementara itu, kondisi temperatur perairan daerah pemijahan berkisar antara 68-86 Fahrenheit atau 20-30Celsius (CCSBT, 2011). Hiroshi et al. (1997) menyatakan bahwa kondisi oseanografi disekitar daerah spawning ground SBT meliputi suhu permukaan sekitar 280 C dengan salinitas sekitar 35 pada lapisan permukaan antara 20-40 meter di bagian utara 190 LS perairan antara Australia dan Indonesia.

Apabila membandingkan hasil penelitian CSIRO yang mencatat bahwa ikan SBT berkeliaran menyebar di selatan Samudera India dan Samudera Pasifik pada kondisi perairan dengan temperatur permukaan 17-23 Celsius (CSIRO, 2011), terlihat bahwa ikan SBT dapat hidup pada kondisi temperatur perairan yang berubah-ubah. Hasil penelitian CCSBT menunjukkan bahwa ikan SBT dapat mentolerir berbagai suhu air di sekitarnya karena ikan tersebut memiliki sistem peredaran darah maju yang cenderung mampu menjaga suhu tubuhnya untuk tetap hangat terhadap air di sekitarnya (CCSBT, 2011).

Menurut Wudianto et al. (2003) daerah Penangkapan ikan tuna kapal tuna longline yang berasal dari Cilacap dan Benoa yaitu di perairan selatan Jawa antara 108-118o BT dan 8-22o LS di mana perkembangan saat ini sebagian besar atau > 70% kapal ikan tuna Indonesia telah melakukan Penangkapan ikan tuna di luar perairan ZEE Indonesia. Penangkapan ikan tuna di luar perairan ZEE Indonesia Samudera Hindia di duga karena kelimpahan sumberdaya tuna di perairan ZEE Indonesia cenderung semakin sedikit.

Hal ini terlihat dari laju pancing (hook rate) dalam kegiatan operasi Penangkapan ikan tuna kapal tuna longline Indonesia di perairan ZEEI semakin kecil dan ukuran berat ikan yang tertangkap juga cenderung makin kecil. Pada awal-awal perkembangan tuna longline (1970-an), hook rate berkisar antara 1,15 2,16. Pada tahun 1999 hook rate turun mencapai 0,67. Begitu pula dengan berat ikan tuna yang tertangkap cenderung terus menurun dari 37 kg/ekor pada tahun 1973 menjadi 26 kg/ekor pada tahun 1999 (Pusat Riset Perikanan Tangkap, 2002).

Jual abon tuna

Makanan yang paling praktis untuk disajikan di saat apapun salah satunya adalah Abon tuna. Abon ikan tuna akan nikmat disajikan bersama nasi hangat maupun dengan lauk pauk lainnya. Atau juga bisa menggunakan abon tuna sebagai makanan utama dengan bubur untuk orang yang sedang sakit. Website Online untuk penjualan Aneka Abon Ikan kini menghadirkan kembali makanan sehat dan bergizi dengan brand Abon ikan Tuna. Jadi masih sering repot saat menyiapkan menu makan siang, makan malam? sajikan saja Abon ikan Tuna di meja makan anda. Atau bila anda berpergian? berangkat haji? bertamasya? jangan lupakan juga untuk membawa abon ikan tuna sebagai menu utama maupun tambahan kala bersantai di tempat wisata, saat makan di kota mekkah, madinah. Selain tersedia dalam varian ikan tuna ( abon tuna ), juga tersedia Abon Lele, abon ikan gabus/ haruan yang tak kalah lezatnya. klik disini untuk perbandingan harga Abon Ikan Tuna

Artikel ini membahas tentang Penangkapan Ikan tuna, mungkin anda tertarik dengan artikel yang berkaitan Penangkapan Ikan tuna:

Incoming search terms:

  • Ikan blanak diJawa Timur yg ada di Kabupaten mana saja ?
  • sumberdaya ikan tuna
  • sumadhiharga 1991
  • suhu rata-rata perairan samudera hindia selatan jawa
  • perkembangan laju tana longline di samudera hindia
  • musim tangkap ikan di jawa
  • musim ikan tuna di ntb
  • musim ikan di benoa
  • mengapa kegiatan menangkap ikan laut diperairan indonesia relatif sedikit
  • manfaat zooplanton pada ikan tuna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>